WELCOME TO MY BLOG

Senin, 15 Oktober 2012

Teori Petengahan Aristoteles


TANGGAPAN TENTANG
TEORI PERTENGAHAN ARISTOTELES:
“Yang baik adalah yang berada di tengah-tengah... “

1. DEFINISI TEORI
Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta . Selain itu, berbeda dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara "sementara" dan bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini mengindikasikan bahwa teori berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan, berbeda dengan penarikan kesimpulan pada pembuktian matematika.
Dalam ilmu pengetahuan,
teori dalam ilmu pengetahuan berarti model atau kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami atau fenomena sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dan dievaluasi menurut metode ilmiah. Teori juga merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya.
Manusia membangun teori untuk menjelaskan, meramalkan, dan menguasai fenomena tertentu (misalnya, benda-benda mati, kejadian-kejadian di alam, atau tingkah laku hewan). Sering kali, teori dipandang sebagai suatu model atas kenyataan (misalnya : apabila kucing mengeong berarti minta makan). Sebuah teori membentuk generalisasi atas banyak observasi dan terdiri atas kumpulan ide yang koheren dan saling berkaitan.
Istilah teoritis dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang diramalkan oleh suatu teori namun belum pernah terobservasi. Sebagai contoh, sampai dengan akhir-akhir ini, lubang hitam dikategorikan sebagai teoritis karena diramalkan menurut teori relativitas umum tetapi belum pernah teramati di alam.
Terdapat miskonsepsi yang menyatakan apabila sebuah teori ilmiah telah mendapatkan cukup bukti dan telah teruji oleh para peneliti lain tingkatannya akan menjadi hukum ilmiah. Hal ini tidaklah benar karena definisi hukum ilmiah dan teori ilmiah itu berbeda. Teori akan tetap menjadi teori, dan hukum akan tetap menjadi hukum.
2. Konsep Baik dan Buruk
a. Pengertian
Ilustrasi: sesuatu misalnya A dianggap baik oleh si B karena si B memperoleh keuntungan atau manfaat dengan adanya A tersebut sedangkan si C merasa bahwa A itu buruk karena si C tidak merasakan manfaat atau bahkan dirugikan dengan adanya A itu. Dari contoh tersebut, jelaslah bahwa terdapat perbedaan penilaian terhadap satu objek yang sama karena keduanya memiliki pandangan dan kepentingan yang berbeda. Tetapi diantara perbedaan itu juga terdapat persamaan yaitu keduanya sama-sama menilai A dari perihal manfaat keberadaan A terhadap keduanya. Ilustrasi diatas menggambarkan bahwa pendefinisian baik dan buruk bersifat subjektif dan relatif.
Walaupun demikian, secara garis besar Baik dan Buruk dapat didefinisikan. “Baik” didefinisikan sebagai sesuatu yang sudah mencapai kesempurnaan, memiliki nilai kebenaran/ yang diharapkan, dan yang berhubungan dengan luhur, bermartabat, menyenangkan, dan disukai manusia. Sedangkan pengertian buruk merupakan kebalikan dari pengertian “baik”.
b. Penentuan Baik dan Buruk
Penentuan baik dan buruk berdasarkan beberapa hal, yaitu:
1. Berdasarkan adat istiadat masyarakat (aliran sosialisme).
2. Berdasarkan akal manusia (hedonisme)
3. Berdasarkan intuisi (humanisme)
4. Berdasarkan kegunaan (utilitarianisme)
5. Berdasarkan agama (religiousisme)
c. Konsep baik dalam agama Islam
Dalam agama Islam baik didefinisikan sebagai:
1. Hasanah; sesuatu yang disukai atau dipandang baik (QS. 16: 125, 28: 84)
2. Tayyibah; sesuatu yang memberikan kelezatan kepada panca indera dan jiwa (QS. 2: 57).
3. Khair; sesuatu yang baik menurut umat manusia (QS. 2: 158).
4. Mahmudah; sesuatu yang utama akibat melaksanakan sesuatu yang disukai Allah (QS. 17: 79).
5. Karimah; perbuatan terpuji yang ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari (QS. 17: 23).
6. Birr; upaya memperbanyak perbuatan baik (QS. 2: 177).
3. TEORI-TEORI ARISTOTELES TENTANG KEBAIKAN(394-322 SM)
Aristoteles mengemukakan beberapa teori yang berhubungan dengan konsep “Baik dan Buruk”, diantaranya adalah:
a. Causa finalis: Yang baik adalah apa yang secara kodrati menjadi arah tujuan akhir adanya sesuatu.”;
b. Eudaimonia: Yang baik yang menjadi tujuan akhir hidup manusia adalah kebahagiaan atau kesejahteraan.”;
c. Mesotes (Teori Pertengahan): “Hidup yang baik itu merupakan kegiatan yang diatur oleh akal budi sesuai dengan prinsip kebijaksanaan jalan tengah (“the rule of the just middle”), yakni menghindarkan ekstrem terlalu banyak di satu pihak dan ekstrem terlalu kurang di lain pihak.”.
Dari beberapa teori diatas dapat ditarik inti pemahaman yaitu bahwa yang baik adalah yang berada di tengah-tengah, tujuan akhir manusia adalah kebahagiaan, untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan menggunakan ilmu pengetahuan.
4. TANGGAPAN DAN KRITIKAN TERHADAP TEORI ARISTOTELES
Teori Aristoteles tersebut mendapat beberapa kritikan salah satunya yaitu menyebutkan bahwa teori-teori tersebut (Causa finalis dan eudaimonia) bersifat egoistik dan duniawi, karena menjadikan kebahagiaan diri sendiri sebagai tujuan hidup adalah suatu kebaikan.
Mulanya saya (penulis) memiliki 2 hipotesis tentang teori mesotes (kebenaran yang selalu berada dipertengahan) yang dikemukakan Aristoteles.
Pertama, saya membenarkan teori tersebut karena fakta yang terjadi adalah yang baik itu berada di antara (tengah-tengah) dua hal yang buruk, yaitu “terlalu” dan “kurang”. Contohnya, sifat dermawan berada di antara sifat boros dan kikir. Selain itu juga terdapat didalam kitab suci Al-Qur’an yang menerangkan tentang kebaikan berada pada pertengahannya QS.Al-Maidah ayat 66 : Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.”. Di dalam Al-Qur’an, kata “pertengahan” ditafsirkan sebagai orang yang berlaku jujur, lurus dan tidak menyimpang dari kebaikan.
Kedua, teori suatu kebaikan berada pada pertengahan hanyalah suatu kebetulan. Seperti contoh pertengahan antara kikir dan boros misalnya yaitu dermawan yang merupakan sifat baik dan pertengahan antara pengecut dan kenekadan yaitu keberanian, hanyalah suatu kebetulan sifat kebaikan tersebut berada ditengah-tengah. Tetapi ada kebaikan yang tidak terletak diantara dua hal yang buruk contohnya sehat dan iman (keyakinan terhadap Allah). Tidak ada kondisi diatas atau lebih dari sehat yang ada hanya sakit, begitu juga dengan iman. Bahkan “keadilan” pun tidak selalu berada seimbang antara dua sisi atau membagi dua sama rata. Adakalanya kita harus condong kepada sisi lain untuk berbuat adil. Adapun tentang QS. Al-Maidah ayat 66, diayat tersebut pertengahan dalam bahasa arab ditulis dengan menggunakan kata muqtashidatun berasal dari kata iqtashada yang dalam kamus bahasa arab berarti hemat /tidak boros dan tidak bakhil (kikir) bukan menggunakan kata ausathiha atau wasathun yang berarti tengah /pertengahan. Ini memberikan gambaran bahwa kebaikan tidak mutlak berada pada pertengahan tetapi hanya untuk kondisi tertentu saja.
Dari dua hipotesis tadi saya terpacu untuk mempelajari tentang teori kebaikan menurut Aristoteles dan memberikan kesimpulan yang tepat dari kedua hipotesis tersebut.
Setelah mempelajari tentang teori aristoteles ini yaitu dengan membaca, mendengar dan menelaah. Maka saya menarik suatu kesimpulan dari kedua hipotesis yang telah dikemukakan sebelumnya. Dan kesimpulannya yaitu: Teori Aristoteles ini (mesotes) dibenarkan tidak lain jika kebaikan tersebut berada pada satu kondisi diantara dua keburukan yaitu terlalu dan kurang.
Jadi kebaikan adalah suatu kondisi yang berada pada pertengahan diantara dua keburukan, bukan diantara kebaikan dan keburukan dan bukan diantara dua kebaikan.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/
http://adab.uin-suka.ac.id/
http://forumkuliah.wordpress.com/
Abu Hasan Al-Atsary, 2006. Software Kamus Al-Mufid version 1.0
Al-Qur’an Digital 2.1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar